Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pengawetan kering


TEKNIK LABORATORIUM
PENGAWETAN SERANGGA CAPUNG DAN KECOAK







Disusun oleh :
Titis Wulandari
Jurusan Biologi



UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Pengawetan untuk serangga yang memiliki abdomen besar, misalnya kupu-kupu. Mengawetkan abdomennya dapat dilakukan dengan cara disuntik formalin. Untuk kumbang bertubuh besar, terlebih dahulu dicelupkan ke dalam cairan. Pengawetan ini dilakukan pada hewan yang memiliki kerangka luar keras dan tidak mudah rusak akibat proses pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven atau dijemur di bawah terik matahari hingga kadar airnya sangat rendah. Sebelum dikeringkan hewan dimatikan dengan larutan pembunuh, kemudian hewan diatur posisinya. Hewan yang sudah kering kemudian dimasukkan dalam kotak yang diberi kapur barus dan silika gel dan Lain sebagainya. Tiap hewan yang diawetkan sebaiknya diberi label yang berisi nama, lokasi penangkapan, tanggal penangkapan dan kolektornya.
Hewan atau disebut juga dengan binatang adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup di bumi. Sebutan lainnya adalah fauna dan margasatwa (atau satwa saja).
Hewan dalam pengertian sistematika modern mencakup hanya kelompok bersel banyak (multiselular) dan terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda (jaringan), sehingga kelompok ini disebut juga histozoa. Semua binatang heterotrof, artinya tidak membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya.



1.2 Tujuan
  1. Untuk mengetahui cara mengawetkan spesies hewan dengan cara mengeringkan.
  2. Praktikum ini bertujuan untuk mengumpulkan tanaman kering untuk kepentingan pembelajaran
  3. Belajar mengetahui tentang cara-cara mengawetkan serangga
  4. Pengawetan serangga pada kecoa dan capung.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Awetan kering tumbuhan di sebut herbarium, sedangkan awetan kering serangga (Insecta ) disebut insektarium. Hewan vertabrata dapat di awetkan dengan membuang otot dagingnya sehingga tinggal kulit dan rangkanya. selanjutnnya hewan diisi dengan kapas atau kapuk dan di bentuk sesuai aslinya. Awetan demikian disebuk taksidermi. Dalam uraian berikut ini, kalian dapat mempelajari cara mengawetkan tumbuhan dan unsecta ,
Pengawetan hewan kering dengan cara /istilah taksidermi merupakan proses pengawetan dengan cara mengelurkan organ dalam dari hewan tersebut dan yang dibentuk adalah kulit dari hewan itu sendiri.
                 Pengawetan Hewan Vertebrata
  1. Penangkapan/penentuan jenis hewan yang akan diawetkan. Tahapan ini terserah kepada kita, apa dan tujuan kita dengan pengawetan hewan. ini Tentunya bukan untuk eksploitasi atau tujuan yang tidak baik, kita harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip/kelestarian alam/lingkungan.
  1. Pematian Hewan. Teknik pematian hewan ini berbeda tergantung jenis hewan apa yang akan kita matikan. Dalam proses pematian ini prinsipnya darah tidak keluar dari organ tubuh, dan dipastikan benar bahwa hewan tersebut benar-benar mati. Karena jangan sampai ketikan proses pengulitan berlangsung, hewan tersebut secara fisiologis belum mati. Istilah saya untuk kejadian tersebut adalah "menjolimi".
  1. Pengulitan (Skining). Tahapan ini adalah bagaimana caranya kita melepaskan kulit yang melekat pada otot/menempel pada daging hewan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya kita harus dilengkapi dengan seperangkat alat bedah yang lengkap dan tajam sehingga proses pengulitan berjalan dengan baik (kilit terkuliti, tidak ada otot/daging yang menempel pada kulit).
  1. Pengawetan Kulit (Preserving). Pengawetan kulit ini penting dilakukan karena bisa menyebabkan bau busuk bila kita tidak benar-benar memahami tahapan ini. Setelah selesai pengulitan, kita lanjutkan dengan pengawetan kulit dengan cara memberi pengawet kulit (boric acid) yang ditaburkan ke seluruh kulit yang dikuliti (bagian dalam). Setelah itu untuk beberapa hari dikeringkan. Lama pengeringan tergantung jenis hewannya.
Pengawetan hewan avertebrata bertujuan untuk mempermudah pemahaman morfologi, anatomi, anatomi dan sistematika hewan avertebrata dengan membuat media pendidikan sendiri.
Tahap-tahap pengawetan hewan avertebrata, yaitu :

1. kegiatan mematikan hewan
Yaitu dengan cara memasukkan hewan avertebrata ke dalam larutan pembunuh seperti alkohol pekat atau larutan formalin 3%. Pada hewan yang melakukan gerakan-gerakan yang kuat sebaiknya tidak langsung dimatikan tapi dilakukan anastesi dahulu. Untuk melakukan anastesi dapat dilakukan dengan menggunakan zat-zat sebagai berikut :
a.       menthol, dengan cara menaburkan kristal-kristal menthol pada permukaan air tempat hewan tersebut mengembang.
b.      Magnesium sulfat, kristal magnesium langsung ditaburkan pada permukaan hewan yang masih basah.
c.       magnesium chlorida, larutan chlorida 7,5% (dilarutkan air yang telah mendidih) kemudian hewan seperti plankton dimasukkan ke dalam larutan tersebut selama 30 detik.
d.      chloral hydrate, digunakan untuk melakukan anastesi hewan air tawar
e.       propylene phenoxetol, dengan cara merendam hewan-hewan yang mau dianastesi lalu ditetesi larutan propylene phenoxetol yang kadarnya tidak melebihi 1%.
f.       ethyl alcohol, untuk anastesi hewan air tawar dengan kadar 10%.
2.      fiksasi
Fiksasi adalah suatu proses yang menstabilkan protein penyusun jaringan, sehingga setelah hewan mati jaringan masih tetap seperti kondisi hewan masih hidup. Zat kimia yang umum digunakan untuk fiksasi adalah formaldehyde, ethanol, asam asetat.
3.      Pengawetan.
Hewan yang telah diawetkan disebut spesimen tidak akan mengalami pengkerutan atau rusaknya penyusunnya karena terbebas dari bakteri dan jamur.
Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering. untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya.
b)  Pengawetan Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media/alat, baik itu untuk kepentingan pendidikan atau komersial tertentu ataupun tujuan tertentu

Teknik pengawetan hewan/tumbuhan dengan Bioplastik ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : Kuat dan tahan lama, murah, menarik dan praktis dalam penyimpanan. Tapi teknik ini juga memiliki kelemahan yaitu objek asli tidak bisa disentuh/diraba (karena observasi hanya mengandalkan penglihatan saja).

Pengawetan dengan menggunakan poliester resin ini dapat dilakukan pada bahan segar, awetan kering, dan atau awetan basah. Pengawetan ini bisa untuk mengamati aspek morfologi, anatomi, jaringan, perbandingan, atau siklus hidupnya.


BAB III
METEDOLOGI
             A.    Alat dan Bahan:
-          Jarum pentul
-          Jaring serangga
-          Keliling bottle atau botol pembunuh
-          Kertas Hvs
-          Papan (triplek)
-          Gunting
-          Karton
-          Lem
-          Serbuk gergaji
-          Black
-          Kapur barus
-          Sterofon
-          Amplop serangga

          B.     Prosuder Kerja
1.      Untuk  mematikan jenis-jenis serangga yang berkulit lunak seperti kupu-kupu, lebah, capung KCN. Sebaiknya tidak langsung dimasukkan dalam botol lain yang lebih ditaruh dalam botol lain yang lebih kecil misalnya tabung bekas rol film. Botol film kita isi 1 n sendok makan kristal KCN, disumbat dengan kapas dan dipasang dengan cara membenamkan pada penutup dengan mulut yang menghadap ke dalam botol pembunuh.
2.      Cara membunuhnya dengan jalan menekan atau memijat kedua sisi dada dengan mempergunakan ibu jari dan telunjuk. Memijatnya harus hati-hati benar, sebab jika terlalu kuat dapat merusak badan serangga tersebut. Akan tetapi, kalau memijatnya terlalu lemah, kupu-kupu itu mungkin hanya pingsan, kemudian setelah beberapa saat kembali lagi.
3.      Serangga yang telah dimatikan kemudian kita simpan di dalam amplop serangga yang bisa disebut dengan nama kertas papilot. Sampul ini kita buat dari kertas yang tembus cahaya, yaitu kertas sampul atau kertas samak, kertas kaca, dan kalau terpaksa kita bisa menggunakan kertas stensil/HVS.
4.      Membuat etiket bagi serangga yang telah kita tangkap/matikan. Buatlah etiket dari kertas padalarng ataupun apa pokoknya yang kuat dan berwrna putih dengan ukuran 7 x 18 mm. dengan etiket ini catat antara lain :

Nama tempat didapatkannya,
Tinggi tempat,
Tanggal koleksi,
Kolektor ( yang mengoleksi ).
  1. Serangga yang telah kita tangkap, kita tusuk dengan jarum serangga ( biasanya berukuran 0-7 ). Jarum yang kita pakai harus sesuaikan dengan besra kecilnya serangga yang kita tangkap dengan jarum yang tahan karat. Jarum kita tusukkan pada pungung serangga sebelah belakang pasangan kaki yang kedua atau kaki tengah.jarum persis di tengah-tengah badan serangga dapat mengenai dan merusak pangkal kaki, sehingga apabila serangga kita keringkan akan berakibat terlepasnya anggota badan tersebut.
  1. Cara menusuk harus hati-hati dan harus tegak lurus badan serangga.untuk jenis-jenis serangga bersayap lurus sepeti belalang, menusuknya pada bagian belakang kepala, sedang pada sayap perisai seperti kumbang, menusuknya dari dekat pangkal sayap.
  2. Setelah serangga kita tusuk, maka serangga tersebut kita tancapkan pada spanblok ( papan perentang / pentangan ). Tetapi ingat, dalam menancapkan harus kita atur posisi sebaik mungkin.
  3. Tindihlah sayap-sayap serangga tersebut dengan kertas tipis / kertas tik dan kertas dan kertas tersebut kita tusuk dengan jarum, sehingga sayap serangga ditahan pada posisi yang kita kehendaki.
  4. Kemudian aturlah antena atau sungut seperti keadaan hidup, yaitu mengarah kedepan; sedang pasangan kaki kita arahkan ke belakang untuk kaki tengah dan belakang. Posisi kaki agar tetap stabi kita tahan dengan jarum. Tancapkan sekeliling kaki tersebut, lalu keringkan.
  5. Untuk cara pengeringan, jangan langsung dikeringkan lewat sinar matahari, tetapi masukkan kedalam blek, yang kemudian blek ini kita jemur di bawah terik sinar matahari. Kita juga bisa mengeringkannya di dalam oven dengan mengatur suhu oven dengan suhu tertentu. Kita juga bisa menggunakan lampu listrik untuk mengeringkan materi tersebut.
  6. Setelah serangga dikeringkan, letakkan ke dalam pigura.

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
Dari hasil Praktek dengan menggunakan serangga yaitu capung dan dan kecoa.
Hewan akan mati karena menghirup klorofom. Hewan yang telah mati diambil dan ditancapkan di suatu papan dengan jarum
Sayapnya direntangkan dan diselotip. Serangga juga dapat diawetkan di dalam larutan alkohol.
Sayap capung yang di awetkan menjadi keras dan tidak mudah hancur. Begitu juga dengan kecoa. Berbeda dengan sebelum diawetkan menggunakan formalin.

Kesimpulan

Dari hasil Praktek dengan menggunakan serangga yaitu capung dan dan kecoa. Di dapatkan hasil yang berbeda dari kecoa dan capung. Walapun sama spesiesnya tetapi berbeda hasil maupun proses pengawetannya.

DAFTAR PUSTAKA
Kurniasih, Surti. 2008. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Bogor : Prodi Biologi FKIP Universitas Pakuan Bogor.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

fariz13sevenfold mengatakan...

bagus sekali,,trimakasih

Poskan Komentar